ImageNama khalwatiyah diambil dari nama seorang sufi ulama dan pejuang makassar abad ke-17, syaikh yusuf al-makasari al-khalwati (tabarruk) terhadap Muhamad (Nur) al-khalwati al-khawa rizmi (w.751-1350). Sekarang terdapat dua cabang terpisah dari tarekat ini yang hadir bersama. Keduanya dikenal dengan nama tarekat khalwatiyah yusuf dan khalwatiyah samman.  Tarekat khalwatiyah yusuf disandarkan kepada nama syaikh yusuf al-makasari dan tarekat khalwatiyah samman diambil dari nama seorang sufi madinah abad ke-18 Muhamad al-samman. Tarekat khalwatiyah yusuf dalam berdzikir mewiridkan nama-nama tuhan dan kalimat-kalimat singkat lainnya secara sirr dalam hati, sedangkan tarekat khalwatiyah samman melakukan zikir dan wiridnya dengan suara keras dan ekstatik. Tarekat khalwatiyah samman sangat terpusat, semua gurunya tunduk kepada pimpinan pusat di maros, sedangkan tarekat khalwatiayh yusuf tidak mempunyai pimpinan pusat.  Cabang-cabang lokal tarekat khalwatiyah samman sering kali memiliki tempat ibadah sendiri (mushalla, langgar) dan cenderung mengisolasi diri dari pengikut tarekat lain, sementara pengikut khalwatiyah yusuf tidak mempuyai tempat ibadah khusus dan bebas bercampur dengan masyarakat yang tidak menjadi anggota tarekat, anggota tarekat khalwatiyah yusuf banyak berasal dari kalangan bangsawan makassar termasuk penguasa kerajaan gowa terakhir andi ijo sultan Muhamad abdul kadir aidid (berkuasa 1940-1960). Tarekat khalwatiyah samman lebih merakyat baik dalam hal gaya maupun komposisi sosial, sebagian besar pengikutnya orang desa.

Untuk mengetahui segala sesuatu tentang tarekat khalwatiyah, perlu diketahui sejarah singkat syaikh yusuf al-makasari, karena beliaulah yang pertamakali menyebarkan tarekat ini ke indonesia pata tahun 1670 M. al-makasari berguru dan mendapatkan ijazah dari syaikh abu al-albarakah ayyub bin ahmad bin ayyub al-khalwati al-quraisyi serta mendapat gelar taj al-khalwati sehingga namanya menjadi syaikh yusuf taj al-khalwati. Di sulawesi selatan beliau digelari tuanta salamakari gowa (guru kami yang agung dari gowa). Nama lengkapnya Muhamad yusuf bin abdullah abu mahasin al-taj al-khalwati al-makasari.

Dalam perjalanan kehidupannya al-makasari sempat belajar beberapa tarekat diantanya beliau sempat belajar tarekat qadiriyah dan mendapatkan ijazah langsung dari al-raniri kemudian belajar tareakt naqsyabandiyah dari Muhamad bin abd al-baqi al-mizjaji al-naqsyabandi (w. 1074 H/1664 M), al-makassari juga sempat belajar kepada syaikh maulana sayyid ali al-zabidi dan dari gurunya ini diduga al-makassari mendapat ijazah tarekat ba’alawiyah, kemudian dari mullah ibrahim beliau mendapatkan ajaran tarekat syattariyah dan yang terakhir al-makassari belajar kepada syaikh abu al-barakah ayyub bin ahmad bin ayyub al-khalwati al-quraisyi yang menggelari al-makassari dengan taj al-khalwati dan ia menerima ijazah tarekat khalwatiah.

  1. Ajarannya

Al-makassari adalah seorang ulama yang luar biasa, terutama adalah seorang sufi, juga seorang mujadid dalam sejarah islam nusantara. Tasaufnya tidak menjauhkan dari masalah-masalah keduniawian, ajaran dan amalan-amalannya menunjukkan aktivitas yang berjangkauan luas, ia banyak memainkan peranan dalam bidang politik di banten, bahkan memimpin perlawanan terhadap belanda setelah sultan ageng tirtayasa tertangkap.

Dalam bidang ilmiah al-makassari menulis karya-karyanya dalam bahasa arab yang sempurna. Hampir semua karyanya membicarakan tentang tasauf, kaitannya dengan ilmu kalam. Dalam mengembangkan ajarannya al-makassari sering mengutip sufi al-ghazali, junaidi al-baghdadi, ibnu al-arabi, al-jilli, ibnu atha’Allah, dan lain-lain.

Konsep utama tasawuf al-makassari adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usahannya dalam menjelasan transendensi tuhan atas ciptaan-Nya, al-makassari menekankan keesaan tuhan, keesannya-Nya tidak terbatas dan mutlak. Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran islam, yang tidak percaya pada tauhid menjadi kafir.

Meskipun berpegang teguh pada transendensi tuhan, al-makassari percaya tuhan itu mencakup segalanya (al-ahattah) dan ada di mana-mana  (al-ma’iyyah) atas ciptann-nya tetapi al-makassari berpendapat meski tuhan mengungkapkan dirinya dalam ciptaan-nya, hal itu tidak berarti bahwa ciptaan-Nya itu adalah tuhan itu sendiri, ssemua ciptaan adalah semata-mata wujud alegoris (al-mawjud al-majazi). Dengan demikian seperti al-alsingkili, ia percaya ciptaan hanyalah bayangan tuhan bukan tuhan itu sendiri. Menurut al-makassari “ungkapan” tuhan dalam ciptaan-Nya bukanlah berarti kehadiran “fisik” tuhan dalam diri mereka.

Dengan konsep al-ahathah dan al-ma’iyah tuhan turun (tanazzul), sementara manusia naik (taraqqi), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat. Namun proses itu tidak akan mengambil bentuk dalam kesatuan akhir antara manusia dan tuhan; sementara keduanya menjadi semakin dekat berhubungan dan pada akhirnya manusia tetap manusia dan tuhan tetap tuhan. Dengan demikian al-makassari kelihatan-nya menolak konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) dan al-hulul (inkarnasi ilahi).

Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan apa pun (laisa ka mitslihi syai’). Beliau mengambil konsep konsep wahdat al-syuhud (kesatuan kesadaran atau monisme fenomenologis). Dengan hati-hati beliah merenggangkan diri dengan dokrin wahdat al-wujud ibnu-arabi dan doktrin al-hulul abu manshur al-hallaj serta mengambil doktrin wahdat al-syuhud yang dikembangkan ahmad al-sirhindi dan syah wali Allah.

Ciri yang paling menonjol dari teologi al-makassari mengenai keesaan tuhan adalah usahanya untuk mendamaikan sifat-sifat tuhan yang tampaknya saling bertentangan. Tuhan, misalnya, mempunyai sifat yang pertama (al-awwal) dan yang terakhir (al-akhir), sifat-sifat yang lahir (al-zhahir) dan yang batin (al-batin), yang memberi petunjuk (al-hadi) tetapi yjuga yang membiarkan manusia tersesat (al-mudhil). Semua sifat-sifat ini tampaknya saling bertentangan. Ini harus dipahami sesuai dengan keesaan tuhan sendiri. Jika menekankan yang satu dengan mengabaikan yang lain akan membawa kepada keyakinan dan amalan-malan yang salah. Hakikat tuhan adalah kesatuan dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan itu dan tak seorang pun memahami rahasianya, kecuali mereka yang telah diberi pengetahuan oleh tuhan sendiri. Dalam teologinya al-makassari sangat patuh kepada doktrin asy’ariyah. Dalam hubungannya dengan keyakinan yang sempurna pada keseluruhan rukun iman beliau mengimbau kaum muslimin untuk sepenuhnya menerima makna yang mendua dari beberapa ayat al-Quran (al-ayat al-mutsyabihat).

Al-makassari membagi kaum beriman ke dalam empat kategori. Pertama, orang yang hanya mengucapkan syahadat (pernyataan iman) tanpa benar-benar beriman, dinamakan orang munafik. Kedua, orang yang mengucapkan syahadat dan menanamkannya dalam jiwa mereka dinamakan kaum beriman yang awam (al-mu’min al-awamm). Ketiga, orang yang beriman yang benar-benar menyadari implikasi lahir dan batin dari pernyataan keimanan dalam kehidupan mereka, dinamakn golongan elit (ahl-khawashsh). Keempat, adalah kategori tertinggi orang beriman yang keluar dari golongan ketiga dengan jalan mengintensifkan syadat mereka terutama dengan mengamalkan tasawuf dengan tujuan menjadi lebih dekat dengan tuhan, mereka dinamaka “yang terpilih dari golongan elit” (khashsh al-khawashsh).

Ajaran-ajaran dasar tarekat khalwatiyah

  1. Yaqza : kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah SWT. Yang maha agung.
  2. Taubah : memohon ampunan atas segala dosa.
  3. Muhasabah : introspeksi diri.
  4. Inabah : berhasarat kebali kepada Allah.
  5. Tafakkur: merenung tentang kebesaran Allah.
  6. I’tisam : selalu bertindak sebagai khalifah Allah di bumi.
  7. Firar : lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna
  8. Riyadah : melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya.
  9. Tasyakur: selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi dan memuji-Nya.
  10. Sima’: mengonsentrasikan seluruh anggota tubuh dalam mengikuti perintah-perintah Allah terutama pendengaran.

Murid harus tawajjuh, yaitu murid bertemu dan menerima pelajaran-pelajaran dasar khusus dari guru secara berhadap-hadapan. Di sini mursyid mengajarkan juga zikir-zikir tertentu, silsilah diberikan, sesudah itu diadakan baiat, talkin. Tahap awal yang harus dilakukan seorang calon murid menjelah pembaiatan adalah harus mengadakan penyucian batin, sikap dan perilaku yang tidak baik seperti:

  1. Hasad: sikap dengki terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain.
  2. Riya: mempertontonkan kekayaan atau amal supaya mendapat pujian dari orang lain.
  3. Ghibah: membicarakan orang lain yang bersifat celaan dan hinaan.

Sesudah suci batinnya diisi dengan sikap dan perilaku terpuji seperti:

  1. Husn al-zhan: berbaik sangka kepada Allah dan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya
  2. Husn al-khuluq: berakhlak baik terhadap Allah dan segala ciptaan-Nya
  3. Husn al-adab: bersopan santun terhadap Allah sebagai bukti taslim

Para anggota tarekat (murid) dibedakan menurut tingkatan-tingkatan (maqam-maqam) sebagai berikut:

  1. Maqam bidayah atau permulaan

Pada maqam ini ditempuh jalan akhyar (orang terbaik), yaitu cara untuk lebih melatih, untuk memperbaiki dan memperbanyak ibadah seperti shalat, shalat sunnat, puasa, membaca al-quran, zakat, naik haji, dan jihad. Pada maqam ini mulai diajarkan zikir nafi itsbat, yaitu kalimat la ilaha illa Allah dengan jumlah yang ditetapkan dalam latihannya (biasanya antara 10-100-300 kali setiap hari)

  1. maqam tawassut/khawashsh atau tingkat khusus

pada maqam ini ditempuh mujahadah, yaitu cara latihan batin yang keras untuk mengubah khlak menjadi islami dengan melipatgandakan amal lahir dan batin. Latihan dzikirnya ditambah lagi dengan zikir Allah-Allah dengan jumlah tertentu (biasanya antara 40-101-300 kali setiap hari)

  1. maqam nihayah atau al-khash al-khawashsh

maqam ini merupakan maqam ahli zikir, yaitu jalan bagi golongan yang sangat cinta kepada Allah dan merupakan golongan yang tertinggi, baik dari kesungguhan pelaksanaan syari’at maupun latihan-latihan jiwanya sehingga terbuka hijab antara hamba dan tuhannya. Ini berarti dia sudah tenggelam dan dekat sekali dengan tuhan. Latihan zikir yang diamalkan adalah zikir ism al-isyarah yaitu huwa-huwa dan ah-ah. Zikir ah-ah adalah zikir yang khusus diberikan dan diamalkan oleh syaikh mursyid atau murid tertentu yang terpilih.

  1. Silsilah tarekat khalwatiyah

Wasilah adalah mediasi melalui seorang pembimbing spiritual (mursyid) sebagai sesuatu yang sangat diperlukan demi kemajuan spiritual. Untuk sampai kepada perjumpaan dengan yang mutlak sesorang tidak hanya memerlukan bimbingan tetapi campur tangan aktif dari pihak pembimbing spiritualnya dan pra pendahulu sang pembimbing, termasuk yang paling penting nabi Muhamad. Inilah arti penting dari silsilah : ia menunjukkan rantai yang menghubungkan seseorang dengan nabi dan melalui beliau sampai ke tuhan. Oleh karena itu, bagian yang penting dalam pencarian spiritual adalah menemukan seorang mursyid yang dapat diandalkan. Seseorang harus mengikuti bimbingan sang guru tanpa syarat, patuh mutlak seperti mayat di tangan orang yang memandikan.

  1. Karya-karya al-makassari

Menurut azyumardi azra ada delapan di antara karya tulis al-makassari yang ditulis di ceylon, yaitu:

ü  Al-barakat al-saylaniyah

ü  Al-nafahat al-saylaniyah

ü  Al-manhat al-saylaniyah fi manhat al-rahmaniyah

ü  Kayfiyah al-mughni fi al sa’adat al-murid

ü  Habl al-warit li sa’adat al-murid

ü  Safinah a-najah

ü  Mathalib al-salikin

ü  Risalah al-ghayat al-ikhtishar wa al-nihayat al-intizhar

.

  1. MENGENAL TAREKAT SAMMANIYAH

Tarekat sammaniyah adalah tarekat pertama yang mendapat pengikut massal di nusantara. Hal yang penting di dalam tarekat ini adalah corak wahdat al-wujud yang di anut dan syathahat yang terucapkan olehnya tidak bertentangan dengan syariat.  Kesimpulan ini dapat dibuktikan dengan mencoba menafsirkan syathahat yang terucapkan oleh syaikh samman, dan dalam kitab manaqib syaikh al-walry al-syahir sendiri jelas-jelas disebutkan bahwa syaikh samman adalah seorang sufi yang telha menggabungkan antara syariat dan tarekat (jami baina al-syariah wa al-thariqah).

Tarekat sammaniyah didirikan oleh Muhamad bin abd al-karim al-madani al-syafi’I al-samman (1130-1189/1718-1775). Ia lahir di madinah dari keluarga quraisy. Di kalangan murid dan pengikutnya, ia lebih dikenal dengan nama al-sammani atau Muhamad samman. Syaikh samman sebenarnya tidak hanya menguasai bidang tarekat saja tetapi bidang-bidang ilmu islam lainnya. Syaikh samman juga cukup banyak mengikuti ajaran-ajaran tarekat lainnya sehingga dari ajaran berbagai tarekat itu, samman lalu meraciknya dengan memadukan teknik-teknik zikir, bacaan-bacaan lain, dan ajaran mistis semua tarekat tersebut dengan beberapa tambahan, seperti qashidah dan bacaan lain yang ia susun sendiri. Racikan berbagai tarekat ini lalu menjadi satu nama, tarekat sammaniyah. Pola tarekat yang tidak genuine  atau “asli” ini bukanlah persoalan baru di dunia tasawuf. Artinya, samman bukanlah satu-satunya orang yang membentuk ajaran tarekat bukan “asli”. Adalah Muhamad utsman al-mirghani yang mendirikan tarekat khatmiyah yang tidak lain merupakan racikan dari penggabungan naqsyabandiyah, qadiriyah, syadziliyah, junaidiyah, dan mirghaniyah. Sementara ahmad khatib sambas seorang ulama dari kalimantan tetapi lama menetap di makkah pertengahan abad 19, menamainya menjadi qadiriyah wa naqsyabandiyah setelah meracik berbagai tarekat, seperti naqsyabandiyah qadiriyah, thariqah al-anfas, thariqah al-junaidiyah, dan thariqah al-muwafaqah. Tarekat yang didirikan ahmad khatib sambas ini kelak akan menggantikan posisi tarekat sammaniyah sebagai tarekat yang paling populer di indonesia.

 

 

  1. Ritual tarekat sammaniyah

Untuk menjadi anggota tarekat seseorang harus melalui proses pembai’atan. Pada prosesi ini, ia harus membaca baiat, yakni sumpah setia dirinya kepada syaikh untuk menjadi salik atau muridnya, konsekuensi dari pembaitan ia harus mengikuti aturan dan tata tertib yang sudah resmi ditetapkan dalam tarekat, termasuk hubungan dirinya dengan syaikh.

Dalam aturan yang ada, salah satunya adalah murid harus berlaku seolah-olah menjadi mayat di depan orang yang akan memandikan, mengkafani dan menguburkannya. Karena pada dasarnya, syaikh tarekat dengan ilmu dan karamah yang dimilikinya menjadikannya sebagai perantara tuhan dan hambanya. Denga demikian , sayaikh akan membimbing sang murid merasakan tingkat fana fillah.

  1. Ajaran tarekat sammaniyah
  2. Tawassul

Tawasul sesungguhnya adalah memohoon berkah kepada pihak-pihak tertentu yang dijadikan wasilah (perantara) dalam tawasul itu, agar yang dimaksud bisa tercapai. Objek tawasul adalah nabi Muhamad, keluarganya, dan para sahabnya, asma-asma Allah, para auliah, para ulama fikih, para ahli tarekat, para ahli makrifat, kedua orang tua dan lain-lain.

  1. Wahdat al-wujud

Syaikh samman adalah seorang sufi penganut aliran wahdat al-wujud yang sering mengalami ekstase dan “terucapkan” olehnya syathahat. Meski demikian, ia amat kuat dalam memegang syariat. Syaikh samman tergolong seorang sufi yang banyak tereucapkan olehnya kalimat-kalimat syathahat tetapi dalam syathahatnya itu ia tidak menyatakan dirinya Al-Haqq, ia hanya mengaku dirinya “Muhamad”. Sehingga dengan demikian corak wahdat al-wujud yang ia anut dan syathahat yang terucapkan olehnya tidak bertentangan dengan syariat.

Dalam ajaran sufi pada umumnya, wahdat al-wujud merupakan tujuan akhir yang mau dicapai oleh para sufi dalam mujahadat. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mujahadat dalam praktik tasawuf terbagi menjadi empat tataran: (1) syariat, (2) tarekat, (3) makrifat, dan (4) hakikat. Syariat adalah menyangkut kewajiban beribadah dan muamalah, taekat adalah menyangkut kegiatan mujahadat dengan pengamalan zikir dan wirid . makrifat adalah menyangkut kemampuan mata hati seorang salik (murid tarekat) pada saat ia melihat makhluk-makhluk gaib, seperti bertemu malaikat, roh para wali Allah, melihat surga, neraka, dan lain-lain.

Hakikat artinya esensi, yang dimaksud adalah esensi atau hakikat dari semua alam, yaitu Nur Muhamad atau haqiqat Muhamad. Wahdat al-wujud merupakan tahapan dimana ia menyatu dengan hakikat alam ini, yaitu haqiqat Muhamad atau nur Muhamad.

  1. Nur Muhamad

Syaikh samman mengatakan bahwa nur Muhamad itu adalah salah satu rahasia dari seluruh rahasia Allah yang kemudian diberinya maqam. Nur Muhamad adalah yang pertama kali mewujud sebelum yang lainnya berwujud, sedangkan wujudnya adalah hakikat atau esensi wujud alam ini. Nur Muhamad adalah pangkal terbentuknya alam semesta dan memang dari wujudnya generasi segala makhluk terjadi.

  1. Insan kamil

Setiap makhluk memiliki nur Muhamad, dari sekian banyak makhluk berwujud manusia, flora, fauna, dan lain-lain sebagainya. Maka manusia merupakan makhluk yang memiliki nur Muhamad yang paling tinggi dan paling terang. Memang manusia dipandang sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan jasmani, rohani dan kecerdasan untuk mendekati tuha bahkan bersatu dengan tuhan melalui nur Muhamad. Namun demikian hanya manusia yang memilki predikat insan kamil sajalah yang bisa mendekati tuhan bahkan bersatu dengan tuhan. Dari segi syariat, wujud insan kamil adalah nabi Muhamad, sedang dari segi hakikat adalah nur Muhamad atau haqiqat Muhamad. Hubungan keduanya dapat digambarkan seperti ini: nabi Muhamad merupakan koridor yang menuju kepada insan kamil, yaituhakikat tempat “bayangan” tuhan. Orang  islam yang berminat menuju tuhan sampai bertemu dengannya harus melewati koridor ini, yaitu mengikuti jejak langkah nabi Muhamad.

  1. Syathahat

Syaikh samman adalah seorang sufi yang telah menggabungkan antara syariat dan tarekat (al-jami baina al-syari’at wa al-thariqat). Syathahat, sebagaimana telah disebutkan trucapkan oleh syaikh samman tatkala ia menyatu dengan Allah (wahdat al-wujud). Syathahat “terucapakan” oleh syaikh samman, bukan “diucapkan”, karena gagasannya datang dari Allah. Syaikh samman hanya lidahnya yang dipergunakan oleh Allah. Bersatu dengan Allah berarti bersatu dengan nur Muhamad, karena nur Muhamad itu mazhar Allah (penampakan diri Allah). Bagi seorang sufi menyatu dengan Allah dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

Kitab-kitab

  1. Beberapa kitab yang dikarang oleh syaikh samman

ü  Al-futuhat ilahiyyat fi tawajjuhat al-ruhiyat

ü  Al-istighasat

ü  Syarah manzumat jaliyat kubra

ü  Risalat al-samman fi al-dzikr wa kayfiyyatihi

ü  Risalat asrar al-ibadah

ü  Kasyf al-asrar fi ma yata allaqu bihi ism al-qahhar

ü  Mukhtashar al-thariqat al-Muhamadiyyat

ü  Al-nafkhat al-qudsiyyat

ü  Al-nafkhatu ilahiyyat fi kayfiyyat al-suluk al-thariqati al-Muhamadiyyat

ü  Shalawat nur Muhamad

ü  Jaliyat al-kurbi wa manilat al-arbi.

ü  Urwah al-wutsqa wa silsilah uli al-ittiqa sidi Muhamad al-samman

ü  Al-ainiyah.

 

  1. MENGENAL TAREKAT QADIRIYYAH WA NAQSYABANDIYYAH

Tarekat qadiriyah naqsyabandiyah ialah sebuah tarekat gabungan dari tarekat qadiriyah dan tarekat naqsyabandiyah (TQN). Tarekat ini didirikan olah syaikh ahmad khatib sambas (1802-1872) yang dikenal sebagai penulis kitab fath al-arifin. Tarekat ini mengajarkan dua jenis zikir sekaligus yaitu zikir yang dibaca dengan keras (jahar) dalam tarekat qadiriyah dan zikir yang dilakukan di dalam hati (khafi) dalam tarekat naqsyabandiyah.

  1. Ajaran taekat qadiriyah naqsyabandiyah

Adapun kitab fath al-arifin karangan syaikh ahmad khatib sambas dianggap sebagai sumber ajaran tarekat qadiriyah naqsyabandiyah, manuskripnya hanya terdapat satu buah yaitu di perpustakaan nasioanl, jakarta yang disusun oleh murid beliau ma’ruf al-palimbani. Secara garis besar unsur-unsur ajaran TQN, yaitu: tata cara membaiat, sepuluh macam lathaif, kemudian beliau menjelaskan tentang zikir dalam tarekat qadiriyah, dan diteruskan dengan penjelasana tentang zikir dalam tarekat naqsabandiyah, syaikh sambas menerangkan tentang tiga syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat Allah, merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam hatinya dan pengabdian kepada syaikh, kemudia diakhiri dengan penjelasan rinci tentang dua puluh macam meditasi (muraqabah). Sebelum ditutup, kitab ini memuat silsilah syaikh sambas mulai dari beliau hingga rasulullah, dan yang paling akhir dari bagian tulisan tersebut adalah tentang khatam dari tekat syaikh abd al-qadir al-jilain.

Pengembangan ajaran tarekat qadiriyah naqsyabandiyah yang kelihatannya baru dikenal di asia tenggara, memang bermula dari kitab fath al-arifin tersebut. Walaupun murid syaikh sambas yang utama yaitu syaikh abd al-karim banten (lahir 1840) tampaknya tidak mengembangkan ajaran TQN secara luas, namun generasi sesudahnya terutama di pusat-pusat tqn di jawa, qadiriyah naqsyabandiyah relatif maju dan berkembang dengan pesat. Syaikh abd al-karim banten ditunjuk oleh syaikh sambas sebagai penggantinnya, beliau telah bersama-sama syaikh sambas sejak masa kecilnya saat belajar di makkah. Tugasnya yang pertama adalah menyebarkan tarekat ini di singapura selama beberapa tahun. Pada tahun 1872 ia pulang kekampungnya, lampuyangan dan menetap di sana selama kurang lebih tiga tahun. Kemudian pada tahun 1876 ia dipanggil ke makkah untuk menjadi khalifah dari syaikh sambas sebagai pimpinan tertinggi TQN.

Zamakhsyari dhofier menyebutkah bahwa di tahun tujuh puluhan empat pusat utama TQN di jawa, yaitu: rejoso, jombang di bawah pimpinan kia tamim;mranggen dipimpin oleh kiai muslih, suryalaya, tasikmalaya di bawah pimpinan K.H shohibulwafa tajul arifin (abah anom); dan pagentongan, bogor dipimpin oleh kiai thohir falak, silsilah rejoso didapat dari jalur ahmad hasbullah, suryalaya dari jalur tolhah. Cirebon dan yang lainnya dari jalur syaikh abd al-karim banten.